Touring ke Pantai Kuwaru, Bantul

Setelah beberapa kali pertemuan Panitia Touring Warga Dipowinatan Yogyakarta akhirnya memilih Pantai Kuwaru dari 2 pilihan ke Bebeng Kaliurang atau ke Pantai Kuwaru. Touring akan dilaksanakan pada Hari Minggu tanggal 28 Februari 2010 berangkat dari Balai Warga Dipowinatan pukul 08.00 wib tepat. Biaya Rp 50.000 per orang dengan fasilitas memperoleh kaos dan makan siang. Syarat yang lain menggunakan kendaraan roda dua (motor), boleh berboncengan dan lengkap surat-suratnya, pengendara memakai helm serta ada spion.

Rute yang hendak dilewati adalah Dipowinatan – Brigjen Katamso belok kanan – Jl MJ Soetoyo- Jl MT Haryono, Pojok Beteng Kulon ke Selatan – Jln Bantul- Ring Road belok kanan sampai perempatan Madukismo – belok kiri masuk kompleks Madukismo – terus ke selatan – tembus Kasongan (kerajinan gerabah) – Pajangan- Jodok – Sapuangin – Srandakan – Lapangan Poncosari – Sambeng – Pantai Kuwaru.

Peserta tak dibatasi Warga Dipowinatan, ada juga beberapa mahasiswa dari Republik Cekoslowakia yang kuliah di Yogyakarta. Kampung kami adalah kampung wisata sehingga kami sudah terbiasa kedatangan dan berbaur dengan turis asing.

Sampai di Pantai Kwaru sekitar jam 10.00 wib. Jadi perjalanan membutuhkan waktu 2 jam mengingat touring ini  dilewatkan pedesaan yang sejuk meski jalannya lebih panjang. Begitu sampai di tempat, panitia telah menyiapkan minuman dan snack seadanya. Setelah minum secukupnya, ada pengumuan dari Panitia bahwa acara akan dimulai jam 12.00 WIB tepat, maka sekarang acaranya bebas, boleh menikmati segala hiburan yang ada di Pantai Kuwaru.

Permainan yang paling primitive dan paling terbiasa di pantai adalah main pasir. Anak-anak langsung saja mendekati bibir pantai untuk membuat berbagai bentuk bangunan dari pasir, namun sayang bangunan itu belum sempat jadi sudah diterjang air laut karena memang mereka membuatnya  dekat dengan air laut. Begitulah seterusnya, mereka akan membuat lagi dan setelah mereka capai dan bosan, barulah mereka berpindah pada permainan yang lain.


Sedang yang lain yang nyalinya terhadap ombak setengah-setengah dengan minggrang-minggring mencelupkan kakinya ke laut. Begitu ada ombak kecil saja mereka kontan teriak lari balik ke pantai, itulah perilaku orang kota, bukan orang pantai. Gayanya saja kelaut pakai celana panjang dan menenteng HP, begitu diterjang air  laut, rusaklah penampilannya….wekekeke



 Namun para bule ABG ini justru senang mejeng di panas terik matahari, rupanya mereka tidak takut kalau kulitnya gosong atau bahkan bangga karena itu sebagai bukti bahwa mereka sudah pernah ikut touring ke Pantai Kwaru. Sementara itu orang kita menjaga kulit supaya jangan sampai legam dengan dilumuri kosmetik mengandung UV atau UVB atau bahkan bright whitening saja belum cukup.....
.
Dahulu, jaman saya kecil, anak desa sepertiku kalau mau berenang cukup di sungai, dan pada saat itu belum banyak sampah. Kalau anak kota tentu di kolam renang, rupanya  orang pantai tahu akan peluang  atas kebiasaan orang kota yang jiwanya suka air kolam itu, maka munculah bisnis kolam renang air tawar kecil untuk anak-anak. Dilengkapi juga dengan pelampung dari bekas ban dalam mobil. Sekali lagi jangan takut kulitnya gosong sekembalinya dari kolam renang Pantai Kuwaru.


Bagi anak-anak yang masih takut akan air, boleh juga mandi bola di Pantai Kwaru, hebat bukan fasilitas hiburannya. Ternyata orang pantai juga pandai memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Sekarang mandi bola bukan hanya bisnis monopoli Mall yang ada di kota besar. Inilah buktinya, di pantai yang baru saja naik daun popularitasnya, juga ada. Tetapi memang, yang tidak bisa ditipu gaya kedesaannya adalah  bahwa pramuniaganya  bukan gadis-gadis ABG yang cantik-cantik, itulah bedanya.


Lain ladang lain belalang,lain lubuk lain ikannya. Nah kalau  Ketua Kampung Dipowinatan lebih senang  mejeng di atas motor Harley-Davidson : Touring Yellow Screaming Eagle, kelihatan keren bukan?  atau malah orangnya kelihatan kecil dibanding motornya? Mudah-mudahan saja pada waktu mendatang para bikers ada yang tertarik untuk touring ke tempat ini. Hanya sayangnya tempat ini belum tersedia penginapan yang represantatif dan sesuai untuk kelas menengah ke atas.

Katua Kampung kami setelah lelah berpose diatas motor Harley Davidson lebih senang duduk di bawah rindangnya pohon cemara udang yang sudah mulai rimbun di tepi Pantai sambil menikmati teh manis gula batu dan pisang goreng. Cemara udang ini sengaja di tanam beberapa tahun yang lalu dengan maksud untuk menahan gelombang air laut, hembusan angin yang berpotensi memindahkan gunung pasir (sanddunes)


Bagi yang mempunyai kenangan indah, saat pacaran di tepi pantai, bisa saja mengenang romantisme itu sambil duduk-duduk sebatas nostalgia saja.Namun jangan berbuat yang tidak senonoh karena undang-undang pornografi sudah dinyatakan berlaku nanti kalau ketangkep aparat penegak hukum bisa berabe.

 Pokoknya sebatas mengenang indahnya masa lalu tanpa memikirkan betapa beratnya kehidupan yang tengah dihadapi, hutang yang belum lunas, biaya anak sekolah yang tidak pernah gratis, pengobatan yang semakin mahal, harga sembako yang merengkak naik, tabung gas 3 kg yang membawa petaka dan seabrek kisah pedih rakyat kecil yang lain.


Begitu jam menunjuk angka 12.00 WIB, terdengar pengeras suara yang memanggil warga Dipowinatan untuk berkumpul di restoran, acara puncak akan dimulai.

Ternyata acara puncak hanya merupakan ucapan selamat bekerja kepada Pengurus Kampung Dipowinatan dari Bapak Lurah Keparakan. Selanjutnya Ketua Kampung Dipowinatan, Ir Marsito  Merto diminta untuk memberi sambutan sebelum makan siang bersama. Dan sudah diwanti-wanti agar sambutannya tidak usah terlalu lama karena perut sudah keroncongan dan ini demi kesehatan badan....


Acara selanjutnya adalah makan siang bersama. Jarang sekali warga satu kampung berbondong-bondong touring dan terus makan bersama di restoran. Inilah salah satunya. Para bule ABG pun ternyata sekarang sudah doyan makan nasi dan sayur lodeh tanpa takut sakit perut. Bahkan mereka suka sambal maupun ikan laut goreng. Dan katanya jauh lebih enak ketimbang produk ikan yang sudah dikalengkan.


Menu lengkapnya, ada sambal, lalapan, udang goreng, bawal goreng pedas, cha kangkung, sayur lodeh, sayur asep dll

Untuk oleh-oleh orang di rumah kita bisa membeli berbagai macam ikan laut yang tersedia di sini :

 Harapan kami kepada pengelola tempat wisata Pantai Kuwaru, jagalah kebersihan dan selalu tertib untuk melarang wanita tuna susila mangkal di daerah ini supaya tidak menjadi tercemar dan mati seperti Samas.

Komentar

Posting Komentar

Artikel Populer

Karet Gelang Panci Fissler Rusak

Cooking Class Hakasima di Rm Cobra Yogya (Product)

Panci Presto Fissler Berganti Menjadi Sizzling