Pengalaman Hadapi Muntaber

Kejadiannya dimulai pada hari Rabu, anakku Nikolas yang duduk di bangku SD Klas V piknik ke Monumen Yogya Kembali, Candi Boko Prambanan dan terakhir ke Makam Raja-raja Mataram di Imogiri. Anakku,Nikolas paling tidak tahan terhadap AC Mobil, setiap kami bepergian selalu buka kaca jendela mobil dan tanpa AC supaya tidak mabuk yang berbuntut muntah. Nah, saat piknik dia tidak bisa meminta tanpa AC karena pakai Bis Pariwisata. Memang saat itu tidak mabuk karena sudah minum Antimo sebelum berangkat dan tidak muntah tetapi rupanya penyakit masuk angin mulai bersarang di tubuhnya. Dan kondisi tidak enak ini sudah terucap pada saat Niko ikut Misa Kamis Putih yang dimulai dari jam 20.00 WIB sampai jam 23.00 WIB dimana saya harus bertugas sebagai peran rasul. Tanpa sengaja dia duduk di bangku yang dekat dengan kipas angin. Kondisi demikian cenderung mendorong angin malam semakin mapan dalam tubuh anakku.

Jumat sore dia panas badannya. Istriku harus menunggui dia di rumah setelah memberikan tempra obat turun panas. Saat itu saya ke Gereja sendirian karena harus tugas tata tertib. Sabtu siang naik turun panasnya, artinya setelah minum tempra suhu badanya turun tetapi selang beberapa jam saat tidur badanya panas lagi. Sabtu sore, Malem Paskah saya masih harus ke gereja sendiri karena jagoanku masih panas di rumah. Misa di mulai dari jam 20.00 WIB - 22.00 WIB.

Pulang gereja anakku tetap belum ada gejala-gela semakin membaik,malah muntah setiap dimasuki apapun lewat mulutnya. Muntah-muntah ini sampai Minggu pagi dan bahkan ditambah dengan mencret yang berwarna kecoklatan dan berlendir. Saat itu istriku sudah panik dan dengan wajah pucatnya mengajak mengantar anak periksa ke rumah sakit.

Sabarlah istriku, tunggu sampai nanti sore. Meskipun saya bukan dokter, bolehlah saya mendiagnosis penyakit anakku, saya yakin sekali bahwa dia hanya masuk angin kasep, makanya di depan sudah kuceritakan secara gamblang urutan kejadiannya. Kini saatnya saya harus bertindak tepat. Tempra harus kuganti dengan Biogesik separo tablet untuk menurunkan panasnya mengingat pada obat itu mengandung parasetamol,satu plek isi 4 tablet harganya cuma Rp 1200. Kemudian saya pergi ke apotik terdekat untuk beli obat anti muntah, yaitu Vesperum rasa apel harganya cuman Rp 3000 satu botol isi 60 ml.

Nah,pertama-tama saya minta istriku untuk mengerok badan anakku guna membuka jalan angin keluar dari tubuhnya. Selanjutnya kuminumkan Vesperum sesuai takaran dan kutunggu 1 jam ternyata tidak muntah,nyicil ayem. Selanjutnya Biogesik 1/2 tablet kuminumkan biar panasnya turun. Satu jam berikutnya tidak muntah bahkan panasnya turun, tambah ayem. Kira-kira 30 menit kemudian saya minumkan Diapet satu tablet. Dan selang 30 menit kemudian tidak muntah maka saya suapin bubur promina. Berhasil, sampai sore dia tidak muntah tetapi banyak meludah efek dari Vesperum, tapi enggak apa-apa. Supaya badannya tidak lemas akibat muntaber, dan sebagai pengganti Oralit,maka kuminumkan Pocari Sweat sebagai pengganti ion tubuh yang banyak hilang akibat muntaber, satu botol isi 500 ml harganya Rp 6.000. Sampai jam 24.00 wib Minggu malem sudah turun panasnya dan tidak muntah, tetapi masih sering buang air besar. Oleh karena itu pagi harinya, yaitu hari Senen, istriku saya suruh beli telur asin (telur bebek),jadah dari ketan dan sayur kluweh (bukan gori/nangka). Ketiga makanan tersebut sebagai obat tradisional untuk mengenthalkan tinja. Nah, anakku saya suruh makan bubur dengan sayur kluweh lauk telur asin plus Diapet 1 tablet. Selang 1/2 jam saya minta makan jadah 1 iris. Hasilnya, mencretnya mampet.

Komentar

Artikel Populer

Karet Gelang Panci Fissler Rusak

Cooking Class Hakasima di Rm Cobra Yogya (Product)

Panci Presto Fissler Berganti Menjadi Sizzling