Gerebek Ngayogyakarto

Persiapan gunungan gerebek dilakukan dengan proses pembuatan gunungan. Berikut inilah petugas pembuat gunungan yang sedang in action.



Setelah seluruh gunungan siap (ada tujuh gunungan) maka ruang penyimpanan gunungan dikarantina dan dijaga ketat oleh petugas Kraton. Hanya berjaga-jaga saja pada setiap kemungkinan buruk.






Gunungan Kakung

Gunungan Wadon

Pak Prabu juga menyempatkan diri untuk memeriksa kesiapan gunungan

Puncak gunungan Kakung


Puncak perayaan sekaten selalu ditandai dengan acara gunungan gerebek. Acara ini selalu dihadiri ribuan rakyat jelata yang hendak berebut komponen gunungan. Pada jaman dahulu, saat beginilah para wali melakukan siar agama Islam.




Tahun ini Kraton Yogyakarta membuat 7 (tujuh) gunungan.Tepat jam 10.30 sebanyak lima gunungan dibawa ke Masjid Gede Kauman dan dua gunungan kakung di bawa ke  Pakualaman dan Kepatihan. Kepatihan dikirim gunungan baru tahun ini dilakukan. Seluruh arak-arakan berjajar ditengah alun-alun besar di depan Kraton dan berjalan lurus ke utara dengan kedua sisi diapit oleh Prajurit Lombok Abang yang menyandang senapan. Sebelum melewati ringin kurung ditengah alun-alun, arak-arakan gunungan yang menuju ke Masjid Gede Kauman berbelok ke kiri (ke barat), sedangkan ke dua gunungan kakung yang hendak menuju ke Pakualaman dan Kepatihan berjalan lurus melewati ringin kurung dengan cucuk lampah sepasang gajah.

Pada ketiga tempat ini masyarakat dari berbagai pelosok telah menunggu untuk memperebutkan hasil bumi yang ada pada ketujuh gunungan tersebut. Upacara pemberangkatan gunungan dipimpin oleh Manggalayuda GBPH Yudhadiningrat yang arak-arakannya melewati kraton menuju ke masjid Gede Kauman.


Nah lihatlah betapa gagahnya pasukan Kraton Yogyakarta. Jangan curiga dulu bahwa Kraton Yogyakarta unjuk pasukan. Prajurit ini hanya gagah untuk keperluan upacara kebudayaan atau disebut Prajurit Seremonial bukan prajurit perang.





Gunungan yang menuju ke arah Masjid Gede Kauman dicucuk lampahi oleh sang Gajah dan bersama dengan tiga ekor kuda, satu kuda berwarna putih yang membawa Pelana Raja Kraton Yogyakarta dan dua ekor kuda berwarna coklat. 

Cucuk lampah sepasang gajah

Kemudian dibelakang kuda tersebut berbaris rombongan para kaum.yang berseragam sorjan putih.


Kedua rombongan ini berjalan duluan sementara Prajurit Lombok Abang yang sejak awal berdiri di kanan (10 orang) dan di kiri (10 orang) menembakkan senapannya ke udara setiap kali gunungan melewatinya. 

Kuda putih pembawa Pelana Raja

Dipilih kuda putih barangkali untuk melambangkan kesucian hati untuk Sang Raja. Jaman Singasari dahulu sebelum naik tahta menjadi Raja Singasari, Anusapati pun menggunakan kuda putih  dan berjubah putih untuk membasmi kejahatan di wilayah Singasari. Oleh karenanya dia dikenal sebagai Kesatria Putih. Namun kalau cermati dengan teliti, kuda putih di atas tidaklah benar-benar putih memplak tetapi putih lethek, ada hitamnya dan sedikit coklat he...he...



Tetapi karena kuda putih ini tidak terlatih untuk perang dengan dentuman senapan dan mortir maka begitu mendengar tembakan salvo dari Prajurit Lombok Abang, sang kuda berjingkrak kaget.


Gunungan kakung dan wadon sedang diarak menuju Masjid Gede Kauman










Setelah upacara pengantaran gunungan ke Masjid Gede Kauman selesai dilaksanakan dengan sukses, maka saatnya prajurit tombak berbaris pulang ke Kraton Yogyakarta. Nah,prajurit ini pada kondisi normal akan menundukkan tombaknya untuk menghormati sang raja, tetapi dalam peristiwa kemarin yang lucu adalah tombak ditundukkan karena takut tersangkut kabel PLN...wekekeke...

Komentar

Artikel Populer

Karet Gelang Panci Fissler Rusak

Cooking Class Hakasima di Rm Cobra Yogya (Product)

Panci Presto Fissler Berganti Menjadi Sizzling