Tourist arrivals to Dipowinatan month February 2011

Nah, bulan Februari ini kami kedatangan turis masuk kampung Dipowinatan sebanyak 10 orang, semuanya orang bule dari Cheko. Berikut inilah daftarnya,ketimbang susah nulisnya, kita photo saja nama-nama mereka, simple kan?


Teks selamat datang ini ditempel di papan pengumuman di seluruh pelosok kampung Dipowinatan, sehingga sang turis merasa benar-benar dihargai dalam acaranya masuk kampung. Seluruh kampung welcome...


Kebetulan ada mahasiswa dari UPN Yogyakarta yang hendak tugas belajar di Cheko, maka sekalian kita kolaborasikan untuk menyambut kedatangan tamu Cheko ini. Kelihatan pak Dosen dan mahasiswa UPN sedang melihat-lihat kantor Dipowisata yang penuh photo turis asing.



Aparat Kelurahan Keparakan, Dinas Pariwisata dan Agen Wisata kita undang juga untuk mengikuti welcome ceremony di kantor Dipowisata.





Kedatangan tamu selalu diawali dengan pengalungan bunga. Mereka sangat tersentuh dengan acara yang sederhana begini tetapi penuh penghargaan tulus kepada sang tamu. Petugas yang memberikan pengalungan pun kita pilihkan pejabat setempat yang hadir.










Acara sambutan dimulai dari Pan Marsito Merto sebagai guide profesional yang energik dan tak kenal lelah...sugeng rawuh poro sederek sedoyo...(dalam bahasa Cheko..wes ewes ewes...)





Gantian wakil dari turis Cheko memberikan sambutan...matur nuwun dumateng sambutanipun ingkang regeng sanget meniko (pake bahasa Cheko).





Sang turis terheran-heran bahwa Duta Besar Cheko pernah datang ke Dipowinatan, belum tahu dia...Dipo dilawan...wekekeke...


Mejeng sebentar dengan penari boleh saja. Ingat, ini bukan tledhek tetapi penari jawa. Kalau sampiyan bilang ini tledhek bisa tak plintheng...hahaha...



Sekarang marilah kita blusukan masuk kampung Dipowinatan. Ada apa di dalamnya? Kita lihat bersama-sama.


Pemberhentian pertama adalah melihat pengrajin wayang. Apakah mereka kenal dengan Gatotkaca atau tidak, yang penting kita perlihatkan bahwa kita ada pengrajin seperti itu, enggak usah repot dan cara pikirnya tidak usah njelimet...







Pemberhentian kedua adalah melihat pengrajin bangkon. Blangkon adalah topi untuk pakaian adat jawa, sama juga dengan ikat kepala, atau Jawanya "iket" makanya ada unen-unen, jas buka iket blangkon yang artinya sama juga sami mawon, gitu...






Mari kita lanjutkan touring kita untuk melihat lebih dalam isi kampung Dipowinatan.



Kita sempat berhenti sebentar pada warung tradisional. Jangan kaget, kita juga bisa bikin donat...









Pemberhentian ketiga adalah kita mampir dan ramah-tamah dengan salah satu warga Cheko yang saat ini senang dan menetap di Dipowinatan, hebat bukan?...










Entah sudah berapa kali rombongan ini berhenti. Sebab begitu ada pohon pisang roboh saja mereka kagum, ada rumah antik gaya Jawa mereka heran dan mengabadikan, ada burung dalam kurungan yang digantung di bawah dahan pohon, mereka melihatnya dengan terpesona. Banyak hal-hal kecil yang menurut kita itu sudah biasa tetapi mereka tertarik, inilah yang disebut performance...




Nah, waktunya menikmati makan siang masakan khas Dipowinatan, Yogyakarta. Mereka kita ajak masuk ke pendopo untuk makan siang sambil kita pertontonkan tarian Jawa, nikmat bukan?...wis to pokoke nyamleng...





















Sehabis makan siang mereka di daulat untuk menyumbang beberapa buah nyanyian khas Cheko. Lihat mereka sedang berpikir keras untuk menentukan nyanyian apa yang harus dikumandangkan,Pan Marsito membantu memilih lagu...


Setelah lagunya ketemu, mereka mulai bernyanyi, tetapi entah karena sedang konsentrasi mempertahankan nada atau konsentrasi menghafal teks sehingga ekspresinya datar-datar saja, tidak kelihatan....mana ekspresimu....???




Kami sebagai tuan rumah juga tidak mau kalah untuk menyumbangkan lagu daerah kami yaitu gundul-gundul pacul.



Acara berjalan terus dan pada akhirnya pemberian tanda mata atau souvenir mesti dilakukan mengingat waktu sudah semakin sore...











Sebagai tanda kenang-kenangan,marilah kita berphoto bersama. Dan terima kasih atas kunjungan anda sekalian. Tiada gading yang tak retak,maafkanlah kalau pelayanan kami masih ada yang kurang memuaskan.




See you mother...enjoy your next trip...bye...bye...


Komentar

Artikel Populer

Karet Gelang Panci Fissler Rusak

Cooking Class Hakasima di Rm Cobra Yogya (Product)

Panci Presto Fissler Berganti Menjadi Sizzling