Motor Tua Sebagai Aset Wisata Yogya

BSA th 1954 (isi ada STNK & BPKB)
Kemarin teman-teman anggota MAC (Montor Antique Club) Yogyakarta datang berkunjung ke DPRD Yogyakarta untuk meminta bantuan bagaimana melegalkan motor mereka yang sebagian besar tidak bersurat secuilpun. Pemilik motor antique/tua mengalami kesulitan untuk mengisikan motor mereka karena sudah tidak ada dokumen secuilpun. Padahal saat touring mereka sering berhadapan dengan polisi di jalanan dan akhirnya sering motor mereka harus masuk kandang Polsek setempat selama beberapa hari.

Mereka banyak yang menyadari betapa pentingnya ada STNK maupun BPKB dan mereka sanggup membayar pajak kendaraan yang telah ditentukan, tetapi kenapa sudah sekian lama prosedur pengurusannyapun tidak pernah ada kemajuan?

Padahal MAC sanggup bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, Pemkot dan Dinas lain dalam rangka menggalakkan pariwisata di Yogyakarta. Mereka sanggup mengantar para wisman yang kepingin naik motor antigue keliling Yogya, pasti ini menjadi pengalaman yang indah bukan? Para pemilik motor antik ini, yang selanjutnya saya sebut bikers ada yang dandanannya kumal, tangan belepotan gemuk atau olie karena motornya sering macet di jalan, rambutnya gondrong penguk, bercelana jean lepek dan tubuhnya penuh tatto, bahkan saking nyentriknya ada yang menyebut dirinya KUMAT (Kumpulan Motor Antik). Namun ada juga yang perlente dengan sepatu lars, pokoknya macam-macamlah. Nah untuk menghadapi penumpang berupa wisman memang harus dikondisikan dengan bikers yang santun, berdandan rapi dan motornya sehat.

Semoga keinginan para pemilik motor antique segera memperoleh respon positip dari pemerintah dengan menganggap motor antique mereka sebagai aset wisata daerah.

Mereka itu membangun motor sampai layak jalan tidaklah mudah. Pada umumnya onderdil sudah tidak asli alias hasil bandrekan karena tidak ada toko spare part yang jual bahkan pabrik pembuatnya sudah ada yang tutup ditelan jaman. Ketika mereka memodifikasi (custom) mereka membuat spare part dengan mesin bubut misalnya atau memburu ke lapak penjual onderdil (klithikan). Kadang mereka membeli rongsokan motor sudah dalam keadaan kiloan (tidak jalan) dan tanpa surat sedikitpun. Saat mereka membangun untuk menghidupkan sang motor, jelas butuh ketelatenan, kesabaran, perjuangan, trik khusus untuk memperoleh spare part dan duit, sehingga butuh waktu tidak hanya dalam hitungan pekan, bahkan tetahunan. Makanya wajar sekali apabila harga sebuah motor antique sesuai dengan patokan (selera) masing-masing pemiliknya. Asal tahu saja motor BSA th 1954 yang saya beli puluhan tahun yang lalu seharga Rp 2,5 juta sekarang ditawar Rp 30 juta saja hanya kita balas dengan senyuman nakal....not for sale, kagak dijual bro!

Komentar

Artikel Populer

Karet Gelang Panci Fissler Rusak

Cooking Class Hakasima di Rm Cobra Yogya (Product)

Panci Presto Fissler Berganti Menjadi Sizzling